Aku Pembajak: Gilang yang Tak Gemilang

Nasib sial terkadang datang dari hal sepele. 

Gilang, demikian polisi mengetikkan namanya di file BAP jelang makan siang itu, akhirnya tertangkap karena lalai atau menganggap apa yang ia lakukan bersama Bayu selama ini sesuatu yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang normal, seperti bukan hal yang terlarang. 

Psikologi semacam itu menempel di diri Gilang dan Bayu, dua sahabat yang dua tahun belakangan ini menjajal penghasilan dari praktik pembajakan buku, karena tidak ada yang memperkarakan. Bukan saja tidak ada yang melapor, tetapi pedagang-pedagang tua di Shoping Centre yang menjadi kiblat bisnis keduanya meneladankan seperti itu. Terutama, keuntungan yang menggiurkan. Kalau yang “normal”, mereka hanya mendapat 10%, bisnis yang ini mereka bisa untung sampai 30%. 

Kecil? Bisa jadi. 

Namun, yang menggiurkan bagi pemuda Gilang dan Bayu adalah perputarannya yang cepat. 

Buku menjadi sangat murah. Karena murah, tentu saja laku. Di pasar biasa, rantai pasokan agak panjang dan buku yang datang umumnya  mahal. Pembeli enggak antusias kalau bukan buku-buku yang diminati.

Dengan perputaran uang yang cepat itulah dan situasi pasar yang “mendukung” praktik ini, 

Gilang dan Bayu berani berinvestasi besar. 

Mesin cetak dua? 

Astaga, terlalu kecil. Tujuh, Saudara. Tujuh mesin cetak di rumah pembajakan mereka. 

Di rumah yang nyaris tiada henti mesin berkaok itulah buku-buku bajakan diproduksi. Dari rumah bajakan itulah, lokapasar disiram dengan ribuan buku bajakan.

Memang, Gilang dan Bayu sempat deg-degan dengan kelompok penerbit yang mengadukan senior-senior tua mereka di Shoping tempo hari. Seperti para seniora itu, mereka memasang sabuk ekstra. 

Namun, gertakan perkumpulan penerbit ini hanyalah musiman. Mereka berpikir, penerbit-penerbit ini, para penulis dan gerombolan anti pembajakan buku ini, hanya bergairah sesaat dan bukan pejuang dengan napas panjang.

Bayu dan Gilang tentu saja sujud syukur dengan impotensi juang laskar-laskar ini. Berteriak nyaring sepekan, tetapi nyaris senyap berbulan-bulan kemudian.

Tetapi, itu tadi, nasib sial kadang datang dari soal sepele dan kekurangwaspadaan. 

Lantaran mesin potong rusak, buku-buku yang sudah selesai dicetak itu dikeluarkan dari rumah bajakan untuk dicarikan mesin potong lain. Jelas, langkah ini sudah sangat keliru dalam operasi kejahatan. Sebab, kemungkinan ada pihak lain mengetahuinya. Jika teman sepembajakan kayak Seto tidak soal, tetapi bagaimana kalau bukan.

Gilang tertangkap berkat laporan dari pemilik mesin potong yang kenal dengan pemilik buku yang dibajak dan pemilik buku yang dibajak mengenal pimpinan gerakan anti pembajakan buku yang langsung tahu bagaimana mesti bergerak.

Dari Gilang, keluar nama Bayu. Dari keduanya, tujuh mesin cetak dibekukan. 

Dari tindakan sembrono itu, jika tidak mau masuk bui, keduanya akan langsung jatuh miskin karena semua hartanya bakal habis membayar denda yang bakal diajukan pihak yang dirugikan. Besarannya bisa miliaran.

Lain kali, jika sudah bisa berpikir jernih lagi di tahun-tahun mendatang, jalankan lagi operasi cetak bajakan ini dengan lebih teliti lagi, lebih waspada lagi, lebih penuh perhitungan lagi, dan tentu saja lebih berlipat lagi modalnya. Sebab, tidak ada cara lain untuk mempercepat menutup kerugian itu selain melipatgandakan modal.

Jangan lupa, cari bekingan sosial dan hukum yang kuat. Semoga, pengalaman nasib sial dari kecerobohan ini membikin Gilang dan Bayu tambah liat lagi, tambah dewasa lagi, dan tambah cerdik lagi menjalankan operasi kejahatan ini. Sebab, pembaca buku-buku bajakan menanti usaha luhur ekonomi mereka. 

Ayo!

View post on imgur.com

Sumber Gambar: Dikreasi Google Gemini

Serial #AkuPembajak