Esai ini muncul karena melihat Letnan Kolonel Teddy semringah betul dengan upaya mereka membranding diplomasi politik luar negeri Indonesia dengan menampilkan Bobby Kertanegara sebagai maskot. Bobby adalah kucing abu-abu yang konon dipungut Prabowo dari jalanan. Di Australia, Prabowo membawa kotak kecil berisi uniform buat anjing bernama “Toto” milik perdana menteri Australia. Sekaligus, ini balasan atas syal manis yang udah dikasih si PM sebelumnya buat Bobby. Tapi, bagaimana dengan rumah besar teman-teman Bobby di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Menurut sebuah laporan, rumah besar milik teman-teman Bobby musnah. Luasan yang hilang TIAP HARI adalah seluas lapangan sepak bola yang dipakai Garudayaksa Fc main di Liga Pegadaian dikalikan 140. Tiap hari segitu.
Tidak mengejutkan tatkala Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan diplomasinya ke Australia di bulan November memberikan kotak satu stel pakaian untuk Toto. Seekor anjing jenis cavoodle milik perdana menteri Australia.
Sumringah betul wajah PM Anhony Albanese menerima oleh-oleh itu. Seperti sumringahnya paras Presiden Prabowo Subianto pada Mei 2025 saat majikan “Toto” memberi syal bertuliskan “Australia ❤️ Indonesia” kepada Bobby Kertanegara. Bobby adalah kucing abu kesayangan Prabowo yang (konon) dipungut dari jalanan.
Dari sini, kucing Prabowo Subianto mau tak mau tertabalkan sebagai maskot diplomasi republik. Diplomasi hewan peliharaan, kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra.
Bobby kini bersaing dengan Panda (Cina), anjing Konni kesayangan Presiden Putin, dan anjing Toto PM Australia Anthony Albanese sebagai maskot-maskot politik.
Sebagai maskot, Bobby mestinya menjadi pandu politik kebijaksanaan lebih luas tentang arti perlindungan menyeluruh kepada hewan.
Apalagi, bukan hanya kucing yang hidup dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. Kuda sudah lama menjadi bagian dari nafas aktivitas sang presiden. Kuda adalah jelmaan simbolik dari peradaban infanteri kemiliteran.
Bukan hanya kucing dan kuda yang menemani hidup sang jenderal bintang empat ini, tetapi juga hewan mitologi garuda. Hewan itu tidak hanya menjadi lambang partai politik, tetapi juga pemayung akademi sepakbola bernama Garudayaksa Indonesia.
Ekosida
Kehadiran kucing, garuda, dan kuda dalam kehidupan politik adalah politik hewan. Kehadiran binatang khas dan memori si pemelihara atas hewan-hewan itu kita baca sebagai politik kebijaksanaan.
Namun, jenis politik hewan dari politisi seperti Prabowo Subianto ini berhenti pada gimik dan omon-omon belaka manakala tak bertaut dengan kompas kebijaksanaan politik yang lebih luas.
Mari kita uji kuat-retaknya politik fauna ini tatkala kita dudukkan di ekosistem utama hewan itu sendiri: politik hutan.
Dan, inilah pemandangan yang sangat mencemaskan. Rumah utama hewan ini perlahan menjadi neraka. Politik hewan ala Bobby ini sama sekali tak menjelma dalam politik ekologi yang justru pemerintah sendiri sedang melakukan ekosida legal dengan memakai semua instrumen hukum yang berlaku.
Dalam ekosida, bukan saja hutan binasa, tapi biodiversitas juga musnah. Tumbuhan obat lenyap. Dalam megabiodiversitas itu jutaan hewan menghitung mundur tahun-tahun kemusnahan.
Bukan hanya Bobby menjadi hewan jalanan, tetapi gajah, harimau, monyet, oragutan, elang, burung, dan jutaan hewan lainnya menjadi forestless dalam ekosida itu.
Bukan saja hewan-hewan itu mengalami kebinasaan, tetapi ekosida juga mengambil paksa semua kebudayaan hutan yang dirawat para leluhur dengan rupa-rupa upacara dan ritus.
Mestinya, kecintaan sang pemilik kepada Bobby dan menjadikannya maskot diplomasi politik dilambari oleh semangat memelihara rumah besar hewan-hewan itu. Memberi perlindungan berlapis-lapis kepada kaum yang berjibaku memelihara rumah besar hewan itu.
Mesti kita ingatkan lagi, kebun binatang itu bukan rumah hewan. Itu adalah sirkus. Pasar Rumput di Jakarta itu pasar hewan, bukan habitat.
Dan, begini yang kita dengar dari majikan Bobby soal politik hutan sebagai rumah besar animal kingdom di pamungkas 2014: “Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation, namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Benar enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida. Dari mana kok kita dituduh yang boten-boten saja itu orang-orang itu. Jadi jagalah para bupati, gubernur, tentara, polisi, jagalah kebun kelapa sawit kita. Itu aset negara.”
Kontradiksi
Pernyataan itu adalah karpet merah dari deforestasi yang diucapkan secara telanjang oleh sosok yang menjadikan hewan sebagai maskot diplomasi politik internasionalnya.
Di satu sisi, ia memperlihatkan kepedulian yang mulia pada Bobby, kepada kuda-kuda peliharaan, serta puja-puji tak terbatas pada burung mitologi bernama garuda. Sementara di sisi lain, kebijaksanaannya sebagai pimpinan tertinggi animal republic justru sebaliknya.
Sangat tidak masuk akal mengapa kontradiksi seperti ini mengemuka pada satu panggung dan pada satu waktu secara bersamaan oleh pribadi yang sama.
Kecintaan kepada hewan diperlihatkan secara maksimum di panggung utama kenegaraan, menjadi maskot percakapan antar kepala negara, sementara di halaman belakang Republik ini praktik deforestasi berlangsung sangat kasar dan barbarian.
Saya garis bawahi lagi kalimat buruk dari majikan Bobby ini: “ … jagalah para bupati, gubernur, tentara, polisi, jagalah kebun kelapa sawit kita”.
Untuk menjalankan aksi penghancuran rumah utama hewan ini, Presiden Prabowo bahkan menyebut institusi tentara dan polisi. Akibatnya, di tepian-tepian hutan yang dihuni teman-teman Bobby menjadi padang kurusetra antara polisi-tentara berhadapan dengan masyarakat adat.
Lalu, kita bertanya, mana maskot sejati Republik: bobby atau sawit, garuda atau tambang nikel/batubara/emas minyak.
Jika sawit, nikel, batu bara, emas adalah aset negara utama yang harus dijaga tentara, polisi, bupati, seperti yang dikatakan majikan Bobby, mengapa bukan itu saja yang kita majukan sebagai cenderamata dalam percakapan internasional kita. Bukankah sawit, nikel, batu bara, emas, dan minyak yang menghidupi majikan Bobby dan nyaris semua anggota utama kavaleri (tim kampanye nasional) yang kemudian memaklumatkan Prabowo Subianto duduk di kursi presiden.
Atau, kejadiannya seperti apa yang tertulis di Animal Farm. Bobby adalah korban tipuan berlapis: mula-mula dari “Tuan Jones”, lalu disempurnakan oleh babi tiran dan bengis bernama “Napoleon”. Ia diiming-imingi sesuatu dengan menyembunyikan fakta besar bahwa teman-teman Bobby di animal republic tengah menghitung hari-hari kemusnahan.
Di istana, Bobby dan Garuda ditutup matanya dengan syal-syal indah, telinganya disumpal dengan puja-puji pelayan istana kayak Letnan Kolonel Teddy. Bob dan Garuda tidak diberitahu sama sekali betapa mengerikannya bencana dari deforestasi itu. Bencana yang memusnahkan rumah dunia kawan-kawan mereka sebagai binatang.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hanya menghitung statistik korban manusia akibat rupa-rupa bencana yang datang dari gunung dan laut, sementara yang mencatat matinya animal republic dari bencana di antero Republik ini tidak ada yang tahu lembaga negara mana.
Sampai di sini, Prabowo Subianto yang menjadi majikan Bobby pun sempurna menjadi wakil kafilah dari apa yang disebut Paul Crutzen dan Eugene Stoermer sebagai “anthropocene”.
Ciri antroposen ketimbang holosen dalam geologi kebumian adalah perubahan biosfer dan geologi utama penentu gerak alam disebabkan oleh manusia. Bentang hutan dan laut berubah dengan tipe, skala, dan kecepatan signifikan karena aktivitas manusia.
Di Kertanegara, kucing Bobby dan burung mitologi Garuda sama sekali tidak (diberi) tahu soal nubuat antroposen ini. Itu. [muhidin m. dahlan]
* Pertama kali dipublikasikan di koran Jawa Pos edisi Weekend, 13 Desember 2025, hlm. 6