Aku pembajak: Seorang Penulis Mati di Gang Buntu

Tak perlu Anda mengetahui namanya. Sudah lama lenyap dalam roda gerigi zaman. Yang dimaksud lenyap adalah saat lima tahun belakangan namanya tak pernah muncul di koran, apalagi televisi. Mengikuti siklus usia, horison pergaulannya makin tahun makin menyempit.

Seperti berita kematiannya di pekan ini. Hanya sedikit yang tahu. Hanya lingkar dalam. Bukan memilih hidup eksklusif, melainkan makin hari makin tersingkir ia dalam hidup. Generasi berganti dan ia terkena hukum besi kehidupan itu.

Sebagai penulis dan penggambar, ia mestinya bisa menikmati hidup yang lebih sejahtera. Memiliki rumah, tabungan cukup, kendaraan untuk berdarma wisata ada, dan tersisa pula untuk sedekah tetangga dan zakat tiap Idulfitri tiba saban tahun. Tokoh-tokoh dalam novelnya dikenal baik oleh pembaca. Gambarnya pun ikonik. Bagi para pemegang kalkulator finansial, ini pengarang pasti hidupnya baik-baik saja.

Cerita di Kedaulatan Rakyat setelah delapan hari kematiannya–ini pun si wartawan muda ogah menulis  kalau tidak dipaksa redaktur yang mendengarkan kematian si penulis sepekan setelah pemakaman di perkuburan kampung–si penulis meninggalkan dua anak dan satu istri. Tanpa tabungan. Apalagi, uang untuk doa bermalam-malam karena kematian pun butuh dana. Juga, sepengakuan istri di hadapan wartawan muda itu, mereka masih memiliki tunggakan kontrakan.

Kontrakan tua itu ada di ujung gang buntu. Di situlah bertahun-tahun si penulis-si penggambar ini tinggal. Untuk bisa bertahan hidup, sehari-hari ia membuka bengkel sablon karena katanya, hanya ini yang tidak bisa dibajak darinya. Sementara, istrinya jadi babu cuci.

Buku-bukunya laku, tetapi tidak pernah ada uang yang mengalir ke gang buntu itu. Penerbit ditanyakan, tetapi hanya menggeleng dan tidak ada pertanda bakal melawan para pembajak lantaran takut kehilangan lebih banyak di hadapan isilop.

Sebelum hari-hari sekarat itu tiba, ia masih bisa membayar BPJS. Lama-lama ia berhenti karena beras lebih butuh ketimbang asuransi.

Malam sebelum mati, ia menyerahkan satu hartanya paling terakhir: amplop berisi naskah. Dengan berurai air mata, ia bisikkan sesuatu ke telinga istrinya. Sang istri menanggapinya dengan sangat dingin, seakan sudah tahu.

Para pelayat yang umumnya tetangga di radius tiga gang kiri dan kanan datang. Ambulance dari kelurahan sudah membuka pintu bagasi belakang dan bersiap memamah peti yang berisi jenazah si penulis itu. 

Jenazah itu pergi selamanya dengan disaksikan begitu sedikit orang. Tak ada satu pun pembaca buku-bukunya yang datang hendak menyaksikan wajah penulis malang ini berpamitan kepada dunia.

Satu-satunya yang hadir di luar kompleks kampung itu adalah Seto, si pembajak muda yang enerjik. Saat ambulance itu menjauh dari gang, ia mendekati kotak kayu dan memasukkan amplop.

“Maaf, Bung Penulis, royaltimu saya bayarkan lewat mulut peti ini saja. Tidak banyak. Karena, saya perlu modal besar untuk beli kertas dan mesin cetak baru lagi,” gumamnya. Seto si pembajak itu pun berlalu dan tak pernah menengok lagi.

Termasuk, tidak pernah tahu bahwa sebelas hari keberangkatan si suami ke alam baka, istri si penulis malang ini membakar amplop naskah. Ia hanya mengikuti bisikan suaminya untuk berhenti bersedekah kepada para pembajak buku.*

View post on imgur.com

Sumber Ilustrasi: Dikreasi Google Gemini

Serial #AkuPembajak