Pembaca Terakhir Koran (Hari) Minggu

View post on imgur.com

Sepasang suami istri yang kalam ruhaniahnya disiram tiap pekan oleh koran akhir pekan yang terbit saban Sabtu atau Minggu mengalami dilema cukup berat. Di sebuah kota yang warung korannya menyusut sangat drastis oleh fenomena yang disebut “disrupsi media”, pasangan penyair yang menjadikan koran minggu atau akhir pekan sebagai relaksasi dari gempuran informasi harian akhirnya mengangkat bendera putih.

Dengan utang langganan sekian ratus ribu rupiah (sudah lunas) kepada Pak Agen yang sudah sepuh dan tampak lelah hebat, pasangan penyair ini dengan mengucap bismillah menyerukan untuk berjarak dengan koran minggu.

Kesukaran berhubungan dengan koran minggu belum selesai sampai di situ. Di rumah kayu mereka yang kecil dengan desain artistik itu, tumpukan koran minggu yang pembayangan awal sebagai sebuah dokumentasi cipta-karsa Indonesia yang adiluhung mulai mengganggu. 

Dulunya, mereka menganggap, dengan “koran minggu” yang tahun bertahun dikoleksi dengan cara berlangganan di agen, peradaban Indonesia berpihak kepada ekonomi sastra. Kenyataan yang mereka hadapi hari ini, tumpukan koran minggu itu menjadi rumah tikus untuk bersalin dan memperpanjang rantai keturunan.

Suatu hari, si tikus berhasil diringkus dan dihukum mati oleh si penyair ini dengan cara ditenggelamkan di selokan kecil. Namun, hatinya kemudian menjerit dan menyisakan sesal saat mengetahui tikus itu ternyata seekor induk yang menyimpan anak-anaknya yang masih merah di antara tumpukan koran minggu.

Tumpukan koran minggu itu pun dibongkar. Debu-debu peradaban menguar ke udara. Rumah yang sudah kecil itu makin pengap, sementara anak-anak mereka butuh ruang yang sedikit lapang. Koran minggu yang berisi peradaban budaya Indonesia adiluhung yang membuat Menteri Kebudayaan Fadli Zon dianugerahi doktor honoris causa belum lama ini di kampus swasta itu menyumbang kesesakan di tengah kemiskinan senyap-struktural para pemanggul budaya.

Koran minggu itu bersaing dengan peruntukan dan sirkulasi ruang tinggal. Akhirnya, demi hidup yang “sehat” di tengah tekanan ekonomi optimistis dari rezim “kapitalisme terpimpin” ini, keputusan berat diambil: semua koran minggu harus keluar dari rumah sastra bertangga itu. 

View post on imgur.com

Saya ingat bagaimana koran minggu itu sampai bisa tumpuk bertumpuk dalam deret ukur tahun memeluk sastra dan budaya Indonesia.

Demi mendapat asupan koran minggu secara rutin, sepasang penyair yang dengan keras kepala membikin toko buku (khusus) sastra ini dengan gagah berlangganan. Di alam pikiran mereka yang sederhana dan heroik, ketika mereka alpa dengan hari lantaran kesibukan menghitung laba kotor (gross profit) penjualan buku sastra, koran minggu rutin datang dan bisa dibaca kapan saja. Tidak seperti koran lain hari, koran minggu bisa dibaca kapan-kapan. Seperti sebuah cerita para pengelana jauh yang kisahnya bisa dicicil sepagina demi sepagina.

Watak koran minggu memang tidak seperti koran harian yang serupa judul naskah lakon Puthut EA keluaran 2004 yang selalu gagal saya tuntaskan: Orang-Orang yang Bergegas. Harus sekarang. Harus hari ini juga. Basi dan menjadi santapan para pengepul kertas jika sudah berganti hari. Pendeknya, serba bergegas. 

Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Koran Tempo, Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, dan Radar Jogja yang muncul di tiap-tiap ujung pekan di meja kasir pasangan penyair yang berniaga buku sastra ini menghadirkan sensasi dan memori. 

Juga, koran-koran itu seperti kertas-kertas budaya yang terserak di meja dan lantai dan menjadi bahan pemantik obrolan untuk tamu perihal siapa sastrawan yang masih keras kepala menulis puisi dan cerita. Buku baru apa yang rehalnya ditulis agak panjang dengan kualitas lumayan. Mempertanyakan teater apakah masih hidup dan punya guna. Mode atau otomotif apa yang lagi menjadi trendsetter. Siapa lagi pesohor musik dan film yang digandrungi, ditonton, dan dimaki. Dan, sosok-sosok siapa lagi yang berkiprah dalam sebuah dunia hobi yang luput dan tak terjangkau dalam hiruk-pikuk “dunia harian”.

Dunia dalam koran minggu, konten tidak dirancang sebagai hiburan, tetapi sebuah jeda. Interupsi atas dunia harian yang monoton dan menjengkelkan seperti potong-potongan pernyataan pejabat yang tidak sinkron satu dengan lainnya. 

Koran minggu menjauh dari kebisingan. Voice, bukan noise. Ia memberitahu ada dunia lain di pedalaman sana yang tidak seperti halaman ekonomi yang melulu berisi grafis, matrik, dan angka persentase.

Koran minggu itu serupa jurnal peta budaya Indonesia secara berkala dalam bingkai waktu mingguan dengan kurator utama para jurnalis yang sesungguhnya juga sudah sangat lelah dibanting kerja harian dengan gaji pas-pasan yang disertai perasaan waswas apakah besok nama masuk dalam daftar maut PHK atau tidak dari pabrik informasi tempat mereka bekerja.

Dengan tawaran dunia seperti itu, mestinya koran minggu menjadi katarsis. Penghibur bagi mereka yang lelah dan overthinking dengan gaya politisi begajulan. Suara noise di gedung parlemen dengan kualitas seperti sekam yang keluar dari dubur selepan padi. Mestinya pula, koran minggu menjadi impuls, seperti energi yang merambati saraf dengan memanggul bit-bit informasi alternatif.

View post on imgur.com

View post on imgur.com

Kenyataannya tidak seperti itu. Paling tidak, pasangan penyair yang sudah saya ceritakan di awal esai ini. Jika yang mencintai dunia minggu beserta semua cerita ajaibnya dengan keras kepala saja bisa menyerah dengan koran minggu, bagaimana dengan mereka yang semenjana.

Sampai di sini, zoom in dari pembaca terakhir koran minggu makin tampak di pelupuk mata. Habis-habisan perusahaan pers dan jurnalis membingkai dan mengelola wajah dan konten koran minggu, tapi mereka tidak bisa mengelak datangnya kabar buruk bahwa parade pembaca koran minggu keluar sebaris demi sebaris dari kenyataan pasar yang hanya hebat dalam angka BPS, tetapi lempung dalam kualitas transaksi. 

Seperti hengkangnya miliaran pembelanja iklan dari koran cetak tiap tahun, seperti itu pula besarnya para pembaca koran minggu yang keluar dari barisan.

Seperti inilah pemandangan yang saya lakukan tiap bertandang seorang diri ke rumah/toko sepasang penyair ini yang sekuat-kuatnya berusaha percaya masih ada masa depan penjualan buku sastra: tiga tumpukan koran minggu dari berbagai nama terikat tali rapia hitam di jok belakang motor. 

Pembebasan diri dari (tumpukan) koran minggu dicicil seikat demi seikat. Seperti lamat-lamat kita mendengar satu demi satu koran cetak juga melepas halaman koran minggunya. Kalaupun tidak menutup total, paling tidak mengurangi secara drastis jumlah halaman.

 Jadi, kapan terakhir kali membeli dan membaca koran minggu yang terbit di hari Minggu dan terkadang juga terbit saban Sabtu? Selamat mengarungi bulan pers Indonesia. Itu.*

View post on imgur.com

View post on imgur.com

View post on imgur.com

# Diterbitkan pertama kali di Harian Jawa Pos, 14 Februari 2026