Film dokumenter Pesta Babi yang disutradarai jurnalis Dandhy Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale dibuka dengan narasi ini: “kayu besi rawa sepanjang 17 meter ini disiapkan untuk membuat salib”. Saksikan, bukan pesta babi atau awon atatbon oleh suku Muyu di wilayah pedalaman Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, yang menjadi prolog, melainkan kayu salib yang kemudian di film ini disebut “salib merah”.
Menonton koleksi dokumenter ekologi-progresif yang dikerjakan Dandhy D. Laksono dan tim, “salib merah” ini sejatinya sudah muncul di The Mahuzes. Sepuluh tahun lalu, di film itu, “salib merah” belum terbentuk, masih dalam bentuk “patok merah”. Oleh suku Malind, perampasan tanah mereka oleh oligarki yang mendapatkan kertas mandat dari Jakarta disimbolkan oleh penancapan “patok merah” dan penanaman “kepala babi”.
Salib merah terbentuk sempurna sepuluh tahun kemudian, hari ini, ketika di depan mata sedang berlangsung penghancuran ekologi, pembabatan kebudayaan total oleh gabungan penguasa, pengusaha, tentara, dan rohaniawan demi apa yang disebut “kedaulatan pangan dan energi”.
“Melihat panjangnya (kayu), siapakah yang akan disalib? Siapa pun itu, pasti ‘sesuatu’ yang lebih besar dari mereka”, demikian narasi lanjutan prolog Pesta Babi itu.
Kita tahu siapa saja aktor-aktor utama yang menghabisi Papua. Dari layar dokumenter, kita yang buta huruf penindasan ekologi ini bisa mengeja nama siapa saja yang disebut “kolonialisme di zaman kita”. Tapi, siapa yang sedang disalib? Uskup Timika, Bernardus Bosifitwos Baru terang-terangan menyebut penguasa di Jakarta, pemerintah pusat sebagai Pontius Pilatus. Sosok ini menjadi penguasa yang memberi izin penyelenggaraan penyaliban itu.
Tapi, siapa yang disalib?
Dari sini, saya mengingat cerita lain perihal kekerasan terorganisasi dan laten di Papua. Kali ini tidak berasal dari traktat sejarah atau film dokumenter, melainkan manuskrip puisi “yang menarik perhatian juri sayembara manuskrip puisi Dewan Kesenian Jakarta 2021”.
Ditulis Gody Usnaat, seorang guru SD di Keerom, Provinsi Papua, manuskrip yang kemudian terbit dengan judul Bertemu Belalang (JBS, 2022) ini menggambarkan dengan telengas bagaimana dua institusi pusat membunuh seorang guru honorer bernama Yesus. Guru Yesus disiksa-cekik institusi yang mengurusi pendidikan dan sekaligus ditembak mati lembaga yang terbiasa mengurusi senjata.
Kronologi dari lahir, tumbuh, jadi guru, lalu Kaka Yesus terbunuh ditempatkan berkebalikan dengan Pesta Babi (salib menjadi prolog). Yesus yang guru SD dan juga nyambi sekalian jadi nakes (tenaga kesehatan) ditempatkan Gody pada 10 halaman terakhir; dari “Ketika Kaka Yesus Lahir” hingga “Yesus Pulang ke Surga” (hlm. 78-87).
Bacalah perlahan buku puisi ini, terutama lembaran bernomor 78 saat Yesus lahir di antara diksi-diksi yang satu pun tak pernah bisa dipahami mereka yang memberi komando kepada driver ribuan buldoser untuk menghabisi hutan raya Papua. Ulat sagu, papeda, ikan kuah kuning, kakatua, burung parap hadir rampat dengan kegelisahan Papa Yosep yang membayangkan bagaimana jauhnya puskesmas yang mesti ditempuh berjalan kaki di tengah hujan lebat, pohon tumbang, banjir, dan tanah longsor tatkala air ketuban Mama Maria sudah pecah.
Di dunia ironi seperti itulah, Yesus belajar tentang hidup dan bagaimana kuat lahir batin menghadapinya. Lambung Yesus dilatih Mama Maria agar dekat dengan alam sekitarnya. Terutama, saat ia memilih naik turun gunung menjadi guru kontrak dan sekaligus tenaga kesehatan.
sambil menikmati jalan air kali Em
Yesus makan papeda bungkus dan daging babi bakar
dan mimis buah merah
yang nona Veronica bawa
Di kelas, Yesus tidak membawa kurikulum merdeka, tidak pula disibukkan dengan teknologi tawaran Mas Menteri yang tergila-gila dengan apa yang disebut di pengadilan mutakhir Jakarta Pusat dengan “Perjamuan Chromebook”.
Yang diajarkan Yesus di depan kelas tak berdinding itu sesuatu yang sehari-hari yang ia tahu betul bakal jadi cerita rakyat tanpa ada lagi maujudnya: asal usul pohon sagu.
seorang anak angkat tangan dan tanya: kenapa kami mesti ke sekolah
sedangkan buku-buku pelajaran tak pernah menuntun kami ke dusun sagu?
Sementara itu, sebagai nakes yang bekerja tanpa bayaran sedikit pun, Yesus tak ubahnya seperti “kakatua raja”:
ia bawa obat dan bebat dan semangat:
agar yang sakit bisa sembuh
yang lumpuh lekas kuat dan jalan
yang mati kiranya bangkit sebagaimana pemuda nain
Tepat saat mengajar anak-anak Papua dengan Mazmur dan sejumlah materi bagaimana mengenal baik-baik apa yang ada dan tumbuh di atas tanah mereka, guru kontrak bernama Yesus yang gajinya sangat tak pantas untuk hidup ini ditembak.
Kronologi tertembaknya Yesus tentu saja tak ada di Jawa Pos, Kompas, Kedaulatan Rakyat, maupun Tempo. Tak ada satu pun paragraf tercetak di koran atau tersiar via RRI walau hanya satu kalimat pendek di pojok “Berita Daerah” di halaman dalam. Berita rest in peace atau inalillahi itu tidak juga terekam dalam berita-berita digital.
Seperti seorang pengabar gelap, penyair Gody Usnaat dengan gelisah dan tergesa-gesa seperti sedang dikejar pasukan hantu menuliskan kabar tertembaknya guru Yesus itu hanya dalam 19 baris.
Teras berita Gody berbunyi seperti sebuah SMS yang dikirim via satelit karena internet mengalami shutdown atau blackout di seluruh kawasan saat operasi menghabisi Yesus berlangsung:
yesus sedang asyik mengajar anak-anak bernyanyi mazmur
peluru meluncur kena mata jendela dan jubah dan jantungnya
darah tampias seperti air sungai hantam batu
Hanya itu bagian perihal bagaimana guru Yesus yang honorer ini ditembak. Sebagai guru kontrak dan tenaga medis, Yesus sangat dicintai siapa pun di Papua yang memberi penghormatan kepada guru dan tenaga kesehatan melebihi dari siapa pun. Maka pastilah, “peluru yang meluncur” itu bukan milik anak-anak muda Papua yang mempertahankan tanah mereka dari, meminjam istilah narator film Pesta Babi, dari kolonialis Indonesia. Tapi, peluru siapa yang membuat “jubah dan jantung (Yesus) … darahnya tampias seperti air sungai”.
Tak ada lagi keterangan. Gody dengan cepat beralih ke suasana kelas pegunungan yang gaduh di mana,
para murid lari seperti anak-anak babi hutan
dikejar anjing
sebagian terluka dan yang lain simpan dendam
Di kota, penyair bertemu dengan anak-anak yang “siap melakukan serangan balasan” dan tidak mempedulikan lagi kata-kata soft-spoken guru mereka untuk “cintailah musuh-musuhmu”. Mula-mula mereka ke rumah kepala sekolah dan mengajak serta kepala dinas pendidikan menemui bupati di rumahnya untuk membawa kalimat tanya: “siapa yang tembak mati kami punya guru? tak cukupkah kalian menembaknya dengan gaji yang tak pantas untuk hidup?”
Anak-anak yang membawa manifesto tanya itulah kemudian saya lihat bergotong royong memanggul salib merah di film Pesta Babi itu. Sebuah dokumenter yang membuat mata rakyat Indonesia yang tak berdaya dan terperdaya oleh informasi-informasi sumir dan “terseleksi” melihat tindakan dari lembaga yang selama ini kadung dianggap patriotis yang ternyata kelakuannya sangatlah kotor. Lihat, satu-satunya yang tersinggung dengan peredaran film itu adalah mereka yang selalu dekat dengan instrumen membunuh.
Kali ini, seperti kata pengabar Gody Usnaat, guru Yesus mati ditembak saat sedang mengajar. Perlahan-lahan, anak-anak muda Papua, murid-murid yang diajari guru Yesus bagaimana anatomi penindasan dari pengalaman sehari-hari, gembala-gembala salib merah itu mengingat-ingat lagi guru mereka yang terbunuh dengan tuduhan yang paling mudah dilontarkan: separatis.
meski hanya guru kontrak
yesus setia mengajar selama tiga tahun di Sekolah Dasar
ia bahagia ajar anak-anak berhitung
membaca dan menulis
dan melawan penindasan.
Dari puisi, kini terjawab sudah, siapa yang terkulai di tiang salib merah besar yang tingginya 17 meter itu? Sebelum kamera dokumenter Pesta Babi itu menangkap sosoknya yang seluruh jubahnya memerah darah, Gody Usnaat memberitahu bisik-bisik, seperti puisi yang tak pernah dianggap dalam literatur nasional:
tiga hari yesus aman di kuburan
lalu ia bangkit
lalu ia tampakan cahaya raganya seperti api di tungku
…..
ke puncak gunung wandel … ia terbang macam elang
pulang ke surga.
Yesus pergi meninggalkan salib merah dan murid-muridnya yang tak bisa menerima bagaimana bisa guru mereka, Kaka Yesus, dimiskinkan kementerian pendidikan dan dibunuh institusi yang menjadi beking utama pemilik-pemilik buldoser yang menghabisi hampir 3 juta hektar hutan raya.
Mereka yang menyaksikan Pesta Babi dari Jawa seperti melihat Pulau Jawa dan Sumatra yang dijarah VOC. Mereka yang membaca baris puisi guru Yesus dihabisi di Bertemu Belalang seperti lamat-lamat membaca kembali jubah lusuh Pangeran Diponegoro di Kuasa Ramalan yang penerjemahannya didanai yayasan milik Hashim Djojohadikusumo. Itu.*
Dipublikasikan pertama kali Harian Jawa Pos, 30 Mei 2026, hlm. 11