Ada satu hal yang menarik perhatian pecinta sepakbola sejagad menyaksikan Piala Afrika atau Afcon yang digelar sejak 22 Desember 2025. Terutama, di tribun suporter saat Kongo berhadapan dengan Benin. Seorang suporter berdiri tegak tanpa gerak dengan tangan kanan melambai sepanjang pertandingan. Bukan cuma sekali pertandingan, tetapi empat match hingga Aljazair mengandaskan Kongo 1-0 di partai 16 besar pada 6 Januari 2026.
Walau Kongo pulang sebelum Afcon berakhir, atraksi suporter itu menjadikan seluruh dunia menjadi tahu bahwa sosok yang hadir dan di-capture kamera (olahraga) global itu adalah Patrice Lumumba.
Lihatlah, tribun sepak bola Afrika mengeluarkan pernyataan: Patrice Lumumba bukan sekadar bapak bangsa Kongo, tetapi juga ikon Afrika penantang keras tubuh imperialisme.
Tentu saja, itu bukan sekadar pernyataan artistika suporter, tetapi peringatan dan nubuat bahwa iblis imperialisme tengah mengangkangi dunia. Saat “Lumumba” hadir dan berdiri di Maroko, dunia dikejutkan oleh aksi komando pasukan khusus (kopassus) Amerika Serikat yang bergerak menculik seorang presiden dari negara berdaulat bernama Venezuela.
Apa yang menimpa Maduro dan istrinya, itulah yang dialami Patrice Lumumba di tahun awal 60-an yang membuat dunia terbakar amarah. Termasuk Jakarta, Indonesia.
Banditisme
Izinkan esai ini kembali ke dunia tahun 1960 untuk melihat Lumumba dan Kongo dari perspektif Indonesia.
Kongo secara geografis mungkin jauh, tetapi secara spirit sangatlah dekat. Seperti jarak Jakarta–Bandung di mana negara-negara Afrika yang mengalami kolonialisasi yang dahsyat tergerak oleh “Bandung Spirit 55”.
Nyaris tiap hari, harian ini, Djawa Post, menempatkan Kongo selalu tampil di halaman satu setelah negara itu merebut kemerdekaannya dari imperialis Belgia pada Juni 1960; tujuh purnama sebelum perdana menterinya, Patrice Lumumba mengalami nasib sangat tragis pada 17 Januari 1961.
“Lumumba siap adakan perdjandjian dengan setan”, begitu berita utama 18 Juli 1960. Djawa Post mengutip pidato berapi dari Lumumba yang menuding Amerika Serikat berada di belakang Belgia yang mempertahankan pasukannya di negara yang baru saja merdeka itu.
“Kongo di ambang perang,” tegas Lumumba. Ia menuntut satuan kulit putih pasukan PBB diganti pasukan-pasukan Afrika, begitu Djawa Post menulis untuk edisi 5 Agustus 1960.
Lumumba pun mengirim sinyal meminta bantuan negara-negara Afrika menolong Kongo. Dan, Djawa Post (8 September) merilis berita pendek dari Surabaya: “1 Peleton K.Ko. Ikut ke Kongo”.
Sasus pun menyebar ke dunia setelah Lumumba memberikan ultimatum kepada PBB untuk menarik semua pasukan kulit putihnya dari Kongo. Djawa Post menulis judul headline: “Lumumba dibunuh?”. Itu berita utama pekan terakhir September 1960.
Seratus hari dari akhir September itu, Lumumba benar-benar diculik dan dibunuh di bulan Januari 1961. Barulah sebulan kemudian, publik sejagat baru mengetahui kejadian operasi militer yang keji dan biadab itu.
Seperti amarah dan solidaritas untuk Palestina saat ini, seperti itulah respons Jakarta atas pembunuhan keji Lumumba. Sebuah pembunuhan dan kudeta yang kemudian melahirkan diktator dari angkatan bersenjata bernama Joseph Mobutu-Sese Seko.
Presiden Sukarno menyebut pembunuhan Lumumba sebagai “banditisme internasional” dan menjadi “permulaan dari perdjuangan mahahebat menentang kolonialisme”.
Rapat-rapat raksasa “Lumumba” tiada henti berlangsung di Jakarta. Kedutaan Besar Belgia seperti neraka. Terbesar terjadi pada 23 Februari 1961 di Lapangan Banteng.
Begini bunyi pamflet yang disebar panitia “Rapat Samudera Mengutuk Pembunuhan P.M. Lumumba”:
“Kepada organisasi2 pemuda, mahasiswa, peladjar, buruh, tani, wanita, dll, diandjurkan untuk mendatangi Lapangan Banteng dalam bentuk barisan-barisan dengan membawa sembojan2 jang sudah disiarkan panitia. Kepada instansi2 pemerintah, perusahaan2, dll diandjurkan memberi kelonggaran kepada pegawai2, pekerja2, dan buruhnja mengikuti Rapat Samudra”. (Harian Rakjat, 22 Februari 1961, hlm. 1)
Merah Kesumba
Rapat-rapat samudra seperti ini kemudian menjadi peristiwa kebudayaan bersamaan dengan keluarnya nota Pengarang-Pengarang Asia-Afrika yang berpusat di Kolombo.
Termasuk, pengarang dan penyair dari Venezuela yang mengirim surat keras ke PBB. Surat yang ditandatangani antara lain Aledjandre Garcia, Maldonado, Juah Manuel Gonzales, Jose Ramon Medina berbunyi: “Kami, pengarang dan penjair memprotes keras dilakukannya pemunuhan kedji terhadap Patrice Lumumba jang dilakukan dengan perlindungan PBB. Kami menuntut agar dilakukan penjelidikan jang teliti terhadap pembunuhan itu serta haruslah diberikan kemerdekaan jang sepenuhnja kepada Konggo”
Sastrawan dan seniman Lekra di Indonesia menjadikan Lumumba sebagai spirit utama melawan “banditisme internasional”. Lewat cerita pendek, puisi, seni pertunjukan, musik, frase “Lumumba” menjadi bahasa cakapan atau lingua franca politik kebudayaan.
Puisi tentang Lumumba tersebar di mana-mana. D.N. Aidit menulis puisi “Yang Mati Hidup Kembali” untuk menangisi kematian Lumumba.
Di lembar “Kebudayaan” Harian Rakjat edisi 25 Maret 1961, dimuat dua sajak ihwal Lumumba. Atio Rone dari Guatemala menulis “Lagu untuk Lumumba”. Puisi panjang itu diterjemahkan Bintang Suradi. Sementara, puisi satunya lagi milik Njoto, “merah kesumba”:
Darah Lumumba merah kesumba
darah Lumumba merah kesumba
Konggo!
laparmu lapar kami
laparmu lapar kita
lapar revolusi
Darah Lumumba merah kesumba
darah Lumumba merah kesumba
Konggo!
revolusimu revolusi kami
revolusimu revolusi kita
revolusi dunia
Amir Pasaribu, komposer terkemuka, mengolah puisi Njoto itu menjadi komposisi lagu yang dinyanyikan biduan Gordon Tobing di Gedung Kesenian Ps. Baru (sekarang: GKJ) pada 24 Februari 1961.
Festival Film Asia Afrika yang diselenggarakan di Jakarta pada 1964 menjadikan nama Lumumba sebagai nama penghargaan untuk film-film dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Lumumba Award yang jurinya dipimpin Sitor Situmorang diberikan kepada penulis cerita, skenario, aktor, sutradara, jurukamera, dekorator, dan musik terbaik.
Tidak tanggung-tanggung, Presiden Sukarno mengabadikan nama Lumumba menjadi nama nama jalan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional (Bandara Kemayoran, Jakarta). Jalan Lumumba ini kemudian dihapus di masa orde junta militer Jenderal Besar Soeharto karena dianggap kiri dan diganti dengan Jalan Angkasa.
Ketika “Lumumba” hadir kembali dan menangis di tribun di pengujung pertandingan setelah Kongo kalah oleh Aljazair, air mata itu adalah memori keras yang disampaikan Afrika tentang “banditisme internasional” yang berzirah rupa-rupa uniform. Dulu, “banditisme” itu pernah beroperasi di Indonesia tahun 1965, Chili (1973), Irak (2003), dan kini ia bekerja dengan barbar di Venezuela.
Suara pemerintah Indonesia? Auh, ah. Itu.*

* Dipublikasikan pertama kali di Harian Jawa Pos, 10 Januari 2026