Senam Kesegaran “Revolusi”

Di mana-mana senam. Senam di mana-mana. Dari senam ringan setiap pekan seperti CFD hingga semarak kehadiran “ruko” gym di kampung-kampung. Dari podcast otot Ade Rai hingga dr. Tirta. 

Dalam sepuluh tahun terakhir jarang dunia senam masuk dalam cerita utama media dibandingkan saat ini. Apa yang disebut majalah Zaman pada 15 September 42 tahun silam dengan “demam senam” seperti tervalidasi tatkala Kompas di awal pekan bulan ini menjadikan senam sebagai konten sampul, “Keringat dan Otot ‘Flexing’”. Juga, koran Jawa Pos ini tak pernah lalai memasukkan senam yang menjadi gaya hidup urban seperti metropolia Surabaya sebagai konten berita.

View post on imgur.com

Senam memang olahraga publik yang digandrungi. Karena itu pula, barangkali, Sukarno menjadikannya sebagai metafora “revolusi”. Dalam esai Justus M. van der Kroef yang dipublikasikan Asian Survey edisi Mei, 1965 (h. 217-232), senam dipakai sebagai judul: “Indonesian Communism’s “Revolutionary Gymnastics”. Bunyi verbatim Van der Kroef yang menghubungkan senam dengan presiden Sukarno muncul di halaman 221, baris ke-6: “President Sukarno’s appeal that the masses must also carry out ‘revolutionary gymnastics’.”

Senam revolusi yang dimaksud De Kroef itu merujuk pada aksi bersuara lantang dan aksi turun ke jalan yang dilakukan berbagai organisasi untuk menyelesaikan proyek besar yang disebut ganyang asing. Asing di situ tidak seperti yang sering muncul di pidato Presiden Prabowo Subianto saban pekan. Sukarno lebih jelas dan konkret: asing adalah imperialisme dan neokolonialisme (AS, Inggris, dan negara-negara sekutunya di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura). 

Contoh nyata “senam revolusi” itu dilakukan ormas-ormas kiri yang terafiliasi dengan PKI. Nyaris tak ada tanggal merah untuk aksi protes. Mulai dari aksi baku hantam di media sampai aksi demonstrasi yang rutin, berpola, terukur, dan bertujuan.

Mogok sebagai SKJ

Aksi-aksi seperti itulah yang dimetaforakan dengan senam. Di ruang memori publik kita, dikenal istilah “senam kesegaran jasmani”. Diksi ini merujuk pada proyek menyehatkan raga publik yang dibikin rezim Orde Baru. Bukan sekadar proyek biasa, senam kesegaran jasmani (SKJ) masuk dalam  kurikulum. Dua tahun rezim SKJ ini jelang tumbang, Si Kuncung, majalah legendaris anak-anak, masih memasukkan SKJ sebagai contoh soal “Bahasa Indonesia” kelas III SD. Jangankan itu, jauh setelahnya, sepurnama jelang datangnya Covid-19, koran Jawa Pos ini masih menyebut SKJ sebagai soal “22 menurun, tiga kotak” dalam TTS mingguannya. 

Sebagaimana aksi sosial dengan umur panjang, senam sejak dini sangat dianjurkan. Karena demikianlah hukum otot. Dilatih sejak sangat mula. Untuk sampai puncak pada otot-otot kompetisi—dari Porda, PON, hingga Olimpik—butuh latihan dini yang konsisten, teratur, berpola. 

Latihan yang berpola dan konsisten juga yang menjadi perhatian para pemanggul revolusi yang bahkan jauh sebelum negeri ini memproklamasikan kemerdekaan. Tanyalah ke Soerjopranoto bagaimana mogok menjadi momok bagi kolonialisme. Mogok bukan hasil dari “senam” yang dilakukan secara asal-asalan: asal ingat, asal sempat, asal bereaksi. Praktik mogok yang dilakukan nyaris tiap hari sejak 1918 hingga dihabisi semuanya 1926 adalah contoh praktik senam revolusioner yang ajeg, berpola, teratur.

Saking senam mogok itu jadi demam sosial, siswa Ambachschool (Sekolah Pertukangan) di Semarang menyelenggarakan mogok belajar dan mengirimkan surat protes keras untuk mengkritik guru yang sembarangan menempeleng dan mengusir siswa. 

Berita yang kita baca di Sinar Hindia, 1 Juli 1922 itu nyaris tidak beda dengan saat ribuan siswa STM menghambur ke jalan raya di tiga aksi yang berlainan waktu dengan tiga isu yang juga berbeda: 2019 (25 September), April 2022 (11 April), dan 2024 (22 Agustus).

Simak juga “senam” yang diberitakan portal berita BBC Indonesia bertarikh 26 Februari 2025 saat ribuan pelajar dari belasan sekolah di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, melaksanakan long march dan aksi di kantor bupati Deiyai. 

Senam dini “MBG” ala siswa Papua itu jarang sekali kita temukan di daerah-daerah lain untuk isu serupa lantaran Papua memang telah terkondisikan sebagai satu-satunya kawasan paling berapi saat ini, sebagaimana Hindia Belanda di tahun-tahun yang disebut Mas Marco Kartodikromo dalam judul syairnya terkenal: “Anak Hindia Sudah Berapi”.

Kelembekan Otot

Di esai pendek berjudul “Kita haroes tjakap” di koran mingguan Soeara Boemipoetra, 1 April 1923, saya bertemu dengan paragraf ini: “Selagi P. P. P. B. misih hidoep soeboer bagi gerak dan tenaga anggotanja, terhadap oleh pihak madjikan, seolah-olah terhanggap moesoehnja. Kemoedian kita orang ada di dalam kelembekkan, soedahlah barang tentoe pihak madjikan akan membentangkan adat tabiatnja, jang tiada patoet, terhadap oleh pegawainja kadang-kadang, soekalah berkepala batoe, berhanggap sewenang-wenang atau memang sengadja akan membinatangkan pegawai-pegawainja ….”

Kata “lembek” yang muncul di koran pegawai pegadaian ini identik dengan otot. Senam yang dirancang dengan teratur dan disiplin menjaga otot dari “kelembekkan”. Dalam gerakan sosial, otot yang lembek karena kurang latihan itu seperti “orang jang misih lemah pikirannja, sekoenjoeng-koenjoeng linjaplah kemanoesiaännja, sehingga mereka tiada maloe lagi, goena bertempat ke binatangan”.

Senam revolusi pada akhirnya bagian dari ikhtiar agar kemanusiaan tidak jatuh dalam lumpur kebinatangan yang dilakukan “kaoem kapitalist terhadap oleh kita banjak sekali jang berwatak Dosomoeko, sehingga tiada maloe sekali membinatangkan kaoem boeroehnja”.

Bersenam-Senam dalam Kekuasaan

Secara ruang, senam itu bisa dilakukan di outdoor maupun di indoor. Yang kasat mata kita lihat dan itu termasuk kategori “murah” adalah senam di jalan raya, lapangan, halaman, maupun stadion. Sementara, olahraga indoor butuh dana yang lebih. Gym, padel, renang, dan futsal, misalnya, masuk kategori senam borjuis nasional yang tidak semua kelas bisa melihat dan melakukannya.

Dalam konteks sejarah, Sarekat Islam (1916) dan PKI (1954) pernah melakukan dua senam ini sekaligus. Mereka hadir di indoor maupun outdoor. Di masa Sarekat Islam, aksi vergadering dan mogok dilakukan sama intensifnya dengan kehadiran dan partisipasi mereka di Volksraad (Dewan Rakyat). Di era generasi keempat PKI, D.N. Aidit memberi kartu dukungan penuh kepada pemerintahan Sukarno dan sekaligus nyaris tiap hari memenuhi jalan raya dengan aksi-aksi protes.

Saya menyebut “senam dua ruang” ini dengan bersenam gembira dalam kekuasaan. Van der Kroef menyebutnya “climb to power”. Di satu sisi politik mereka lurus dengan rezim, tapi tiap hari mereka tetap menyelenggarakan senam kebugaran revolusioner. SI di tahun 20-an dan PKI di tahun 60-an ingin bilang, jangan sampai seorang aktivis rakyat ketika berada dalam lingkaran kekuasaan berubah seperti babi yang kerjaannya tidur makan; lupa menyegarkan otot revolusionernya. 

Terhadap kawan² ini saja ingin menasehatkan supaja kembali kedjalan jang benar, jaitu djadilah lurah Rakjat, djangan mendjadi lurah musuh Rakjat, djanganlah ikut² mendjadi setan desa,” nasihat Aidit dalam Djadilah Komunis jang Baik dan Lebih Baik Lagi (1964:55).

Pertanyaannya, kapan ujung dari senam aksi protes atau “revolutionary gymnastics” ini? Tak ada yang bisa memberikan jawaban yang terang dan bulat. Bahkan, seorang pesenam-pesenam olimpik dan pemanjat kekuasaan model D.N. Aidit sekalipun. Aidit saja au ao, aalagi yang ikut senam alakadarnya (tanpa sarekat dan perhimpunan yang kuat). Jawaban yang lazim yang biasa kita dengar di podcast-podcast kebugaran adalah rutin saja senam agar tubuh bugar dan tulang tidak jadi selembek lempung ketika usia semakin uzur. 

Seperti itulah kodrat senam itu. Tak punya target yang baku. Kalaupun target itu ada, itu hanya akhir untuk memulai lagi esok harinya. Senam itu dilakukan terus-menerus karena memang dianggap menyehatkan raga (sosial) itu sendiri: ada atau tidak ada kekuasaan yang diraih. Tumbang atau tidaknya rezim despotik. Terkadang, senam revolusi yang rutin itu sekaligus menjadi metode menguji sebuah perkumpulan atau perserikatan apakah konsisten atau tidak menjaga basis otot keanggotaannya, lentur-pejalnya jaringan solidaritas sosialnya, kesehatan asupan logistik ekonominya, dan kekenyalan otot ideologinya.

Latihan Diri

Mengikuti jalan senam revolusi yang dibabar si Raja Mogok van Jogja, De Stakingskoning, Soerjopranoto, hal terpenting dan dasar bagi mereka yang mengikuti senam revolusi adalah kemauan yang keras melatih diri dalam persyarikatan dan perkumpulan. Tak ada senam revolusi tanpa pengetahuan akan perkumpulan yang baik, praktik berserikat yang baik. Apa saja dikerjakan di sana? “Membikin voordracht-voordracht, bikin notulen, bikin register, bisa minta rechtspersoon, bisa memimpin vergadering, enz, enz.,” seperti terpatri dalam lembar advertentie pamflet karya Soerjopranoto, Perserekatan dan Perkoempoelan, terbitan Pasar Tandjoeng, Wirosaban, Yogya pada 1925. 

Percuma olahraga kalau pola makan masih berantakan, kata dr. Tirta “Cipeng” di media sosial. Dalam senam revolusi, rupa-rupa aksi massa itu—pepe, orasi berpelantang, agitasi-propaganda media, vergadering, longmarch, mogok kerja—menjadi makin bernilai jika disertai usaha gigih mengelola keberlanjutan logistik organisasi. 

Sebagaimana gym di mana otot yang dihasilkan dari pekan ke pekan bisa dihitung dengan presisi, tak ada aksi protes sosial yang ajeg tanpa dibarengi dengan kalkulasi persarekatan yang tinggi. Salam senam papaoutai. Itu.*

Dipublikasikan pertama kali Jawa Pos, 11 Juli 2026. Draf awal ditulis dan dilisankan secara on the spot dalam Kelas Esai Radio Buku, Panggungharjo, Bantul, 5 Juli 2026.

View post on imgur.com