Landak yang Luput Jadi Fabel Politik

Elite politik di Medan Merdeka Utara dan Medan Merdeka Selatan sedang retak dan cekcok entah saling rebutan makanan apa saat saya mencoba memahami ulang seruan Soerjopranoto tahun 1918 perihal “Landak Bergerak”. Garuda (Gerindra) di Medan Merdeka Utara, sementara Gajah (PSI) di Medan Merdeka Selatan. Dan, Landak di Medan Boediman.

Medan Boediman yang mengeluarkan seruan “Landak Bergerak”, yang menjadikan landak ambil bagian dalam pergerakan massa, adalah majalah mingguan yang diterbitkan Adhi-Dharma. Organisasi Adhi-Dharma sendiri menaungi pergerakan buruh dan menjadi shaf terdepan dalam vakcentrale organisasi-organisasi perburuhan se-antero Jawa bernama PFB (Personeel Fabriek Bond).

Soerjopranoto, bangsawan Pakualaman Yogya yang kerap disebut de stakingskoning, Raja Mogok, bertindak sebagai hoofdredacteur Medan Boediman dan commandant arbeidsleger (komandan tentara buruh) Adhi-Dharma. 

Perhatikan diksi “raja mogok” dan “tentara buruh” dan bagaimana mereka memilih metafora “landak” sebagai totemisme politik.

Tentu saja, menunjuk landak sebagai zoomorfisme pergerakan politik sangat tidak lazim. Lidah diskursus gerakan sosial di arus bawah kita lebih akrab dengan sebutan “akar rumput”. Atau, saat ini perlahan-lahan perbendaharaan gerakan sosial kita diakrabkan dengan diksi “rimpang” (umbi-umbian). 

Landak yang dinaikkan Soerjopranoto pada permulaan pemogokan massal pabrik gula pada 1918 itu tak ada sama sekali dalam daftar sejarawan Kuntowijoyo ketika menulis secara rutin tiap pekan puluhan esai fabel politik di majalah Ummat pada 1997-1998.

Ketimbang landak, kita lebih akrab dengan kancil, seperti fabel politik Kuntowijoyo yang terbit di tengah semarak pemilu terakhir Orba, “Kancil SH, Drs Kambing, dan Bebek MA” (Ummat, 26 Mei 1997). 

Kisah kancil, kambing, bebek itu bertopik pemilu dan arus golput yang menguat. Seperti judulnya, jelas tiga hewan itulah yang menjadi protagonis utama. Hewan pendukung lain adalah burung hantu yang tergambar menjadi gerakan malam untuk tak percaya pada sistem politik yang sedang digelar sampai kemudian anjing polisi mengepung dan menjebloskannya ke penjara karena subversif.

Kancil, kambing, bebek, burung (hantu), dan anjing (polisi). Landak tidak ada di sana. 

Dalam fabel Kunto yang lain, “Kontes Burung di Negeri Burung” (Ummat, 9 Juni 1997), walau Negeri Burung namanya dengan sosok jahat elang yang bermain di belakang panggung dan sarang, tetap saja hewan lain disebut: kuda (polisi), anjing (intel), dan kucing (penjilat).

“Untuk apa ke kebun binatang tanpa gajah,” tanya Kuntowijoyo di fabel “Impor dan Lokal” (Ummat, 13 Oktober 1997). “Kebun binatang tanpa harimau? Bukan bonbin namanya.”

Landak tidak ada. Termasuk, landak absen di novel fabel legendaris Animal Farm yang di-Indonesia-kan dengan cair Mahbub Djunaidi menjadi Binatangisme pada tahun 50-an.

Dua Wajah Landak

Jika dongeng kita jadikan pandu melihat posisi landak, kita menjumpai dua wajah. Pertama, landak dipandang sebagai bagian dari pihak yang kuat dan menakutkan. Persepsi inilah yang saya temukan saat membaca sepotong fabel asal-usul Bangka di koran Soeara Publiek.

Si protagonis dalam fabel di koran yang terbit di Surabaya pada 18 Mei 1925 itu, Sang Atjen, berkehendak kuat membebaskan negerinya (Bangka) dari binatang-binatang besar dan buas. Dia membuat daftar siapa saja kelompok penindas yang sialnya ada landak di situ: matjan, biroeang (beruang), badak.

Landak dalam cerita ini digambarkan sebagai sosok yang suka mencari perhatian/kehormatan. Si Atjen menjuluki landak sebagai “toekang djoeal omong kosong”. Rupanya, si pembual seperti landak, menurut fabel 1925 ini, termasuk barisan “hewan buas” yang layak ditendang.

Wajah landak yang kedua saya temukan dalam cerita “Apa sebab di Borneo tida ada gadja” di Sin Po yang bertiti mangsa saat tahun 1926 baru berjalan tiga purnama. 

Alkisah, bangsa gajah berniat menguasai Pulau Borneo atau Kalimantan. Sebelum menginjakkan kaki di bumi Kalimantan, terlebih dahulu gajah mengirim utusan dengan membawa gading (tjaling) besar seraya bilang bahwa gading itu adalah “gigi” dari bangsa pengirim. Mudah ditebak, tujuan berita manipulatif si gajah itu agar seisi penghuni rimba raya Kalimantan ketakutan membayangkan betapa raksasanya binatang yang memiliki gigi sebesar itu.   

Nah, di Kalimantan saat itu, penguasanya adalah bangsa landak. Mereka tentu saja sangat ketakutan karena merasa kekuasaannya akan hilang jika binatang dengan gigi sebesar itu datang.   

Lalu, seorang landak pintar memberi usul. Utusan gajah disuruh pulang dan dibekali hadiah balasan berupa selembar “boeloe” landak. Landak berpesan bahwa “boeloe” seperti jarum besar tersebut adalah milik dari binatang yang memerintah di Borneo.   

Tatkala raja gajah melihat “bulu” tersebut, bangsa gajah terkejut dan sangat ketakutan. Mereka mengira binatang di Borneo sangat besar dan jahat karena bulunya saja sebesar jarum besar. Akibatnya, bangsa gajah membatalkan niatnya untuk pergi ke Borneo. 

Landak Bergerak

Barangkali, dongeng landak dari Borneo itu yang mendekati nalar mengapa Adhi-Dharma, mengapa Medan Boediman, menulis pamflet seperti ini: 

Awas, awas! Apa itoe?

Landak bergerak!

Dengarkanlah hai sidoengoe!

Ra’jat bertreak,   

Mari toeroet saudarakoe,

Ingatlah kelak.

Medan Boediman dua kali berseru “Landak Bergerak”. Pertama pada 5 September 1918 di nomor 36, sementara seruan kedua pada 2 Oktober 1918.

Pada seruan “Landak Bergerak” yang pertama, Medan Boediman menguliti betapa binatangnya pribumi saat menjalani hukuman. Kalau pejabat (ambtenaar) datang ke pengadilan distrik/kabupaten, selain menggunakan mobil (auto), juga menerima tunjangan/biaya perjalanan (declaratie) yang bagus.

Bandingkan dengan si kromo. Ini kalimat asli Medan Boediman: poekoel 6 pagi soedah sedia … kita lihat marika sama doedoek di tanah dengan tida dapat tempat jang pantes, pendek itoe orang-orang di koempoelkan di bawah pohon-pohonan, seperti lemboe-lemboe jang ditjentjang di bawah pohon akan di potong.

“Landak Bergerak” adalah seruan kesamaan hukum; bukan hanya vonis, melainkan fasilitas pengadilan yang diskriminatif. Si ambtenaar dijemput/antar dengan mobil dan masih pula diberi persekot, sementara bagi si kromo, bangku pun tak disediakan dan mereka “di koempoelkan di bawah pohon-pohonan, seperti lemboe-lemboe jang ditjentjang di bawah pohon akan di potong”.

Seruan “Landak Bergerak” kedua terkait dengan penolakan keras pada Indie Weerbaar atau Militieplicht. Pemerintah bikin program mewajibkan warga negara “angkat senapan”. Seperti program komponen cadangan atau Komcad.

Alasan pemerintah dan buzzer-buzzernya menyenapankan warga, men-komcad-kan sipil adalah “mendjadi soldadoe itoe mendjaga kepoenjaan sendiri. Tanah Djawa itoe kepoenjaan orang Djawa”.

Medan Boediman justru heran dengan program bedil-bedilan, program senapan-senapanan, maupun program komcad-komcadan itu: “Dengarkanlah soeara jang hanja di bibir ini! Tanah Djawa itoe kepoenjaan orang Djawa. Orang Djawa tida boleh bikin garem, orang Djawa tida boleh pegang pegadaian, dan keoentoengan sematjamnja. Sekarang boemipoetera hendak diwadjibkan angkat senapan. O, Loetjoe!”

Lawan Si Doengoe

Medan dari Yogya menyebut program-program pemerintah seperti menyenapankan warga demi menjaga tanah air yang ternyata cuma akal bulus atau perlakuan diskriminatif yang sangat kasar dalam penanganan hukum antara si kromo dan ambtenaar sebagai program “doengoe”.

Tak ada penjelasan mengapa landak yang dijadikan metafora untuk memperingatkan barisan-barisan “doengoe” itu. Bisa jadi, landak adalah hewan pasifis, tetapi berbahaya. Kulitnya tak sekeras kura-kura, tetapi tajam seperti ujung panah ksatria Pandawa.

Duri atau jarum yang melingkupi tubuh si landak bukan didesain untuk membunuh, melainkan zirah mempertahankan hak untuk tetap merayakan hidup yang damai dalam teritori. Jarum-jarum itu tentu saja bukan sesuatu yang mahal karena ia bisa tumbuh sebagaimana rambut pada kepala bangsa manusia. Duri-duri itu sesuatu yang murah; inheren dalam detak hidup landak. 

Si landak memproduksi sendiri dengan cepat duri atau jarum yang dilepaskan untuk pertahanan diri. Bukan pemberian dari luar atau tergantung pihak lain.

Landak tak hanya bertahan saat diinjak, seperti rumput, melainkan juga bisa melukai, membuat sakit para pemangsa, membikin pengganggu meringis, dan menjadikan si serakah yang lapar untuk berhitung bila berurusan.

Duri landak itu terbahasakan penyair Roby Satria dalam Pencari Landak (Padang Ekspres, 24 Januari 2016, hlm. 14) seperti ini: 

Tapi ingatlah duriku

Yang kuncup menyimpan waspada

Jika tegak menaruh bisa

Bakal meninggalkan goresan luka

Sebuah garis petaka

Garis nasib yang celaka   

Sebab sekali lepas

Seumur hidup kau bakal cemas

Adhi-Dharma yang menyebut diri sebagai arbeidsleger, tentara buruh, sesungguhnya landak itu sendiri. Pemogokan yang intensif yang diselenggarakan di ujung tahun belasan abad 20 itu gerakan pasifis yang tentu saja bukan gerakan akar rumput, melainkan gerakan landak yang mencemaskan kekuasaan. Masif di jalanan memperjuangkan nasib paceklik. Tidak menyerang secara brutal. Memiliki zirah yang tajam, tetapi “senjata” itu bukan ditujukan untuk membunuh atau mengabdi kepada pemerintah sebagai centeng (baca: ormas), melainkan perjuangan agar komunitas dan bangsa landak bisa hidup layak dan bermartabat.

Kemampuan ganda landak seperti itu yang barangkali membuat Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian pada 2004 menamakan mesin penghajar gulma di sawah dengan “mesin landak putar”. Agar kemakmuran tumbuh di sawah, gulma mesti enyah. 

Karena wajah ganda landak seperti itu yang barangkali membuat penyair dari Bali, Wayan Jengki Sunarta, menyematkan diksi “molek” kepada si landak berbulu-duri pada puisi Karena Kemolekan Landak (Kompas, 19 Oktober 2019, hlm. 17): karena kemolekan landak/ dengan bulu-duri berkelindan/ dalam sajakmu/ kususuri lagi jalan setapak/ yang pernah kita tempuh/ di bawah musim paceklik/ yang mencekik hidup kita. 

Landak yang molek itu kini menyaksikan pada dua “Medan”, utara dan selatan, bagaimana garuda dan gajah “bertarung” di panggung ketoprak Republik Binatang. Riuh. Ramai. Lebih berisik dari kebun binatang sungguhan. Itu.***

Pertama kali dipublikasikan Jawa Pos, 10 Oktober 2026